Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita sesungguhnya selalu diberi kesempatan yang sama: memilih untuk percaya pada orang lain. Percaya bahwa, dengan segala keterbatasannya, manusia sedang berusaha melakukan yang terbaik. Percaya bahwa setiap orang layak mendapat ruang untuk tumbuh dan menjadi versi terbaik dari dirinya.

Kebaikan pun tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan mencolok. Ia sering datang diam-diam, melalui hal-hal yang tampak sederhana. Sepatah kata lembut yang menguatkan di saat seseorang hampir menyerah. Uluran tangan yang membantu orang lain berkembang. Atau tindakan kecil yang nyaris tak terlihat, seperti menjadi “malaikat tanpa nama” yang mengisi penuh tangki bensin seseorang yang bahkan tidak kita kenal.

Di balik senyum yang kita lihat setiap hari, bisa jadi banyak orang sedang memikul beban yang berat. Karena itu, menyaksikan atau mengalami kebaikan semacam ini kerap menghadirkan haru, air mata bahagia yang jatuh bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa kemanusiaan yang masih hidup dan bernapas di sekitar kita.

Kebaikan mengingatkan kita pada satu hal yang penting: dampaknya tidak pernah berhenti pada orang yang langsung kita bantu. Ia bergerak, menyebar, dan menjalar ke luar. Kebaikan menyentuh kehidupan orang-orang lain, bahkan mereka yang mungkin tidak akan pernah kita kenal atau jumpai.

Itulah sebabnya memberi dengan ikhlas dan menolong dengan tulus menjadi sesuatu yang bermakna. Sebuah tindakan baik, sekecil apa pun, bisa menjelma cahaya, cahaya yang menghangatkan, menguatkan, dan mungkin menyembuhkan seseorang, jauh di luar jangkauan pandangan kita. (YSPR/FL)