Merdeka !!
Sudah sebulan bencana di Sumatera terjadi.
Rakyat yang menjadi korban dan masih hidup menjerit minta bantuan pada pemerintah agar mereka tetap bisa mengisi perut dan tidur cukup dipengungsian sebagai persyaratan minimal untuk hidup.
Bantuan (help) sudah datang dari pemerintah, namun jauh dari cukup untuk hidup normal walau sederhana.
Sifat asli manusia Indonesia muncul.
Rakyat dari seluruh wilayah yang terdampak yang selamat dan masih hidup, bahkan dari wilayah lain di Indonesia melakukan Gotong Royong ( Mutual help) yang kekuatannya lebih dahsyat daripada bantuan pemerintah (help) , karena Gotong Royong mengandung empati yang sangat kuat dan kerja sama yang erat.
Perbedaan utamanya:
- Help (Bantuan) adalah tindakan menolong yang bisa langsung dan situasional
Contoh : Bantuan makanan siap saji dari pemerintah ke korban bencana alam. - Mutual Help (gotong royong) adalah bentuk kerja sama timbal balik yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, di mana semua pihak yang terlibat saling memberi dan menerima dukungan untuk tujuan bersama, sering dalam konteks komunitas atau kelompok untuk bertahan hidup dan berkembang.
- Help (Bantuan)
Sifat: Langsung, situasional, satu arah (satu memberi, satu menerima), dan seringkali tugasnya spesifik. - Mutual Help (Gotong royong)
Sifat: Timbal balik (dua arah), berkelanjutan, membangun kekuatan kolektif, berbasis kebersamaan dan kepercayaan.
Penelitian dalam ilmu Psikologi, menunjukkan bagaimana tindakan kebaikan memicu pelepasan oksitosin, dopamin, dan serotonin, yaitu neurokimia yang terkait dengan ikatan, penghargaan, dan keseimbangan emosional. Respons neurokimia ini meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.
Gotong royong (mutual help) saat terjadi bencana alam
Tujuannya mengisi kesenjangan dalam memberikan bantuan bencana. Ketika bencana terjadi, lembaga pemerintah sering bertindak lambat, biasanya karena birokrasi yang rumit dan bertele-tele. Pada saat-saat seperti ini, gotong royong dapat menjadi sangat penting karena kelompok-kelompok di lapangan lebih cepat dan lebih gesit, memungkinkan mereka untuk memberikan bantuan mendesak kepada korban bencana yang membutuhkannya.
Penutup
Gotong Royong atau saling membantu (mutual help) tentu saja bukanlah hal baru. Bagi banyak masyarakat adat di Indonesia, kepedulian kolektif semacam ini adalah cara hidup.
Menurut Bung Karno, gotong royong adalah “pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama; amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua,”
Pemerintah saat ini dan oknum-oknum pejabat harusnya malu dan tidak perlu mempersulit prosedur apalagi meremehkan bantuan sekecil apapun bagi korban bencana alam Sumatera, dan harus jujur mengakui bahwa kinerja pemerintah dalam memberikan bantuan belum maksimal.
“Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”
~ Bung Karno
Retno Triani Soekonjono
Psikolog
Pembina Yayasan Soekarmini
