Sejarah besar menyorot nama-nama yang berdiri di panggung utama, selalu ada sosok-sosok lain yang bekerja dalam senyap, menyulam ketahanan keluarga, mengikat kembali yang tercerai, dan menjaga api tetap menyala.
Sosok perempuan sederhana ini lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Nyoman Rai pada 13 Maret 1899 di Singaraja, Bali dan meninggal di pada 22 Oktober 1984 di Blitar, Jawa Timur – memiliki peran besar dalam perjalanan hidup Sang Proklamator sejak kecil hingga masa pengasingan.
Sosok Penghubung Dalam Masa Pengasingan
Ketika Soekarno muda diasingkan ke berbagai daerah Nusantara dari Flores hingga Sumatera, sosok Soekarmini tampil sebagai jembatan hidup bagi keluarga.
Ia ditugaskan oleh ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, untuk menjemput, mengunjungi, dan memastikan adiknya tetap terhubung di tengah keterbatasan transportasi dan komunikasi kala itu.

Pada masa ketika perjalanan laut membutuhkan berbulan-bulan, dan akses antar pulau mahal serta penuh risiko, langkah Soekarmini hanya mungkin terjadi berkat dukungan suaminya, Poegoeh Reksoatmodjo, seorang pejabat irigasi pada masa transisi Hindia Belanda.
Soekarmini adalah kisah tentang pengorbanan, kesetiaan keluarga, dan perempuan yang bekerja dalam diam untuk menopang sejarah bangsa. Kisah yang layak diceritakan ulang, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian inti dari mozaik perjalanan keluarga Proklamator.
Ketulusan, kasih sayang, dan keteguhan karakter Soekarmini menjadi fondasi pembentukan semangat juang sang adik, yang kemudian menginspirasi bangsa.
Anak-anak Soekarmini, Cerdas dan Berprestasi
- Ir. Soekojono, orang yang membangun dan mendesign Tugu Pahlawan Surabaya, sekaligus salah satu pendiri Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya. (anak pertama)
- Soejoso Poegoeh S.H adalah seorang Komodor atau Laksamana Muda Pertama, dan juga pendiri surat kabar EL BAHAR. (anak kedua)
- Soekartini Sarojo Poegoeh, seorang ibu rumah tangga. (anak ketiga)
- Soeharsono Poegoeh, seorang pengusaha. (anak keempat)

Perjalanan Soekarmini menyeberangi pulau-pulau Nusantara, jejak keturunannya, hingga bagaimana versi-versi sejarah membentuk persepsi publik selama puluhan tahun. Sejarah besar Indonesia mungkin mengenal Putra Sang Fajar. Tetapi di baliknya, ada seorang kakak yang menjaga perjuangan itu tetap hidup. (YSPR/FL)
![]()
History often spotlights those who stand on the main stage. Yet behind every grand narrative are quieter figures—working in silence, stitching together family resilience, reconnecting what has been torn apart, and keeping the flame alive.
This unassuming woman was born to Raden Soekemi Sosrodihardjo and Ida Nyoman Rai on March 13, 1899, in Singaraja, Bali, and passed away on October 22, 1984, in Blitar, East Java. She played a crucial role in the life journey of the Proclamator, from his early years through periods of exile.
A Vital Link During the Years of Exile
When the young Soekarno was exiled to various regions across the archipelago—from Flores to Sumatra—Soekarmini emerged as a living bridge for the family.
At the request of her mother, Ida Ayu Nyoman Rai, she was tasked with visiting, escorting, and ensuring that her younger brother remained connected to the family amid the severe limitations of transportation and communication at the time.
In an era when sea voyages could take months and inter-island travel was costly and fraught with risk, Soekarmini’s journeys were only possible with the support of her husband, Poegoeh Reksoatmodjo, an irrigation official during the transitional period of the Dutch East Indies.
Soekarmini’s story is one of sacrifice, familial loyalty, and a woman who worked quietly to uphold the course of national history. It is a story worth retelling—not as a mere footnote, but as an integral part of the mosaic that shaped the Proclamator’s family journey.
Her sincerity, compassion, and steadfast character became part of the foundation that forged her brother’s fighting spirit—one that would later inspire an entire nation.
Soekarmini’s Children: Accomplished and Distinguished
- Ir. Soekojono, the designer and builder of the Surabaya Heroes Monument (Tugu Pahlawan), and one of the founders of Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya (first child).
- Soejoso Poegoeh, S.H., a Commodore (First Rear Admiral) and founder of the newspaper El Bahar (second child).
- Soekartini Sarojo Poegoeh, a homemaker (third child).
- Soeharsono Poegoeh, an entrepreneur (fourth child).
Soekarmini’s journeys across the islands of the archipelago, the legacy of her descendants, and the ways historical narratives have shaped public perception over decades form an inseparable continuum. Indonesia’s grand history may celebrate the Son of the Dawn. But behind him stood an elder sister who ensured that the struggle never faded. (YSPR/FL)
