Merdeka!

Rakyat di setiap negara selalu menunggu pidato dari pimpinannya, baik di tingkat organisasi lokal maupun tingkat pemerintahan kota sampai pusat.

Beberapa tokoh panutan dan juga orator terkenal diantaranya Presiden Soekarno mampu berpidato untuk menyatukan emosi dan memotivasi semangat audiens melalui kata-kata yang diartikulasikan dengan baik dan dengan intonasi suara yang menggelora penuh semangat.

Berpidato bukan sekadar berbagi informasi melalui kata-kata, tetapi harus mampu menciptakan energi, menetapkan niat, dan memengaruhi lingkungan sekitar.

Pidato seorang Presiden.
Menurut para ahli, Kekuatan pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk mengendalikan percakapan nasional, menetapkan agenda pemerintah, dan membentuk persepsi publik. Karena jabatan presiden Indonesia merupakan “mandat rakyat yang berpengaruh”, pidato presiden berfungsi sebagai alat utama untuk menggalang dukungan publik, memberikan semangat pada rakyat, memberikan tekanan pada para pembuat undang-undang dan penegak hukum, serta memproyeksikan kepemimpinan baik di dalam negeri maupun internasional.

Dalam situasi krisis, presiden dapat menggunakan bahasa, modalitas, dan pesan strategis untuk menegaskan otoritas mereka secara hukum dan sosial, menyatakan prioritas nasional, dan menggalang persatuan.

Selain kalimat-kalimat penting yang tersusun apik, penampilan visual, bahasa tubuh, dan latar belakang pidato presiden sangat memengaruhi bagaimana warga negara mempersepsi atau memandang kompetensi presidennya.

Pidato seorang presiden dapat menampilkan citra yang buruk melalui beberapa jenis ucapan yang tidak bijaksana, terutama berbicara bertele-tele tanpa poin yang jelas, menggunakan humor yang menyinggung atau tidak pantas, menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan atau arogan, dan meningkat menjadi permusuhan defensif ketika diktitik atau ditantang. Janji-janji muluk, kebohongan keberhasilan juga bisa mempengaruhi persepsi utuh tentang seorang presiden.

Apakah “humor” boleh digunakan dalam sebuah pidato?
Lelucon atau humor boleh digunakan dalam pidato siapapun, tetapi harus hati-hati menggunakannya . Meskipun humor mampu membangun koneksi secara instan dan “mencairkan” suasana, penggunaan humor bisa berisiko jika gagal. Untuk memastikan keberhasilan, periksa relevansi, kesesuaian dengan audiens, dan sifat resmi atau tidaknya acara dimana pidato itu diucapkan.

Penutup
Kekuatan sebuah pidato siapapun termasuk pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk memengaruhi keyakinan, mengubah pola pikir, dan menggerakkan tindakan.
Pesan inti harus ringkas dan mudah dipahami oleh pendengar.

Keyakinan tulus dalam pesannya harus terpancar jelas, mampu “mengubah” ide-ide kompleks menjadi poin-poin penting yang mudah diingat dan dapat ditindaklanjuti.

Menyampaikan lelucon yang tidak teruji, tidak sensitif, atau kontroversial di luar naskah dapat langsung menghancur kesan dan reputasi profesional seorang pembicara.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! … Negara Republik Indonesia bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

“Jas Merah” amanat terakhir Bung Karno di HUT Proklamasi, 17 Agustus 1966

Retno Triani Soekonjono
Psikolog