Merdeka!
Banyak orang di negeri ini yang senang berlomba. Orang berlomba-lomba korupsi, berlomba-lomba jadi penjilat, berlomba-lomba menipu, berlomba-lomba melanggar ajaran agama.
Sebaliknya jarang yang berlomba-lomba berbuat baik, berlomba-lomba menyatakan kebenaran. Pejabat atau mantan pejabat, jenderal atau mantan jenderal, penegak hukum atau mantan penegak hukum, pendidik atau mantan pendidik memilih diam seribu basa.
Ada ketakutan berjuang demi kebenaran dan keadilan, karena hampir pasti akan kalah atau tersingkir.
Mengapa orang takut berbuat baik?
Orang sering kali takut melakukan perilaku “baik”, terutama di negara yang mengalami degradasi moral karena hal itu membuat mereka “terancam”, karena dianggap mengganggu norma sosial yang sudah berlaku dan mapan, atau mengundang perubahan yang tidak diinginkan.
Menjadi “pemberontak lingkungan” mengandung resiko yang cukup berat yaitu ejekan dan pengucilan.
Reaksi “perlawanan dan permusuhan” dari orang lain yang gemar kondisi kemunduran ahlak, membuat tindakan untuk membuka kebenaran terasa berisiko.
Mengapa orang gemar berperilaku buruk
Menurut penelitian, otak manusia memiliki struktur utama untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia.
Sebagai implementasi dari hal ini orang sering kali sangat fokus pada kebutuhan, keinginan, atau kelangsungan hidup mereka sendiri, bahkan dengan mengorbankan orang lain.
Teori psikoanalitik kepribadian Sigmund Freud berpendapat bahwa perilaku manusia adalah hasil dari konflik yang terus-menerus, seringkali tidak disadari, antara tiga komponen kepribadian, yaitu : id, ego, dan superego. Kepribadian sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanak dan dorongan bawah sadar.
Aspek Superego, berkembang sekitar usia 5 tahun, ini adalah hati nurani moral. Super ego menggabungkan nilai-nilai, moral, dan aturan masyarakat yang dipelajari dari orang tua dan budaya lingkungan. Super ego berupaya mencapai kesempurnaan dan sering mencoba menekan dorongan id yang selalu ingin dipuaskan (pleasure principle)
Dalam perjalanan hidupnya, Individu dapat menggunakan trik kognitif, seperti membenarkan tindakan mereka dengan alasan “semua orang melakukannya” atau meremehkan korban, untuk memperoleh pembenaran dan rasa tidak bersalah.
Penutup
Karena otak manusia dirancang utamanya untuk melindungi diri sendiri agar bisa hidup, maka tidak mengherankan kalau sifat egois lebih mudah berkembang dari pada sifat empati.
Dalam fase perkembangan kepribadian, aspek super ego berfungsi sebagai penentu pilihan perilaku benar atau salah. Individu dengan super ego yang lemah, tidak mampu menerapkan nilai-nilai moral dengan benar.
Ketika lingkungan mengalami kemerosotan moral, mereka melakukan pelanggaran etika moral tanpa rasa bersalah.
Bagi individu dengan super ego kuat, menghadapi tekanan arus kemerosotan ahlak, terpaksa memilih respon “lawan atau lari” (fight or flight), yaitu mekanisme bertahan hidup otomatis dan alami dalam diri manusia. Respons ini mempersiapkan manusia untuk menghadapi ( fight) atau melarikan diri (flight) dari bahaya yang dirasakan atau situasi yang sangat menegangkan.
Pada kenyataannya di negeri tercinta, banyak individu yang memilih “lari” menghindari konflik terbuka dengan perusak moral bangsa untuk keselamatan hidupnya.
“Sesungguhnya kesalahan (hanya) ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.”
QS. Asy-Syura Ayat 42.
Retno Triani Soekonjono
Psikolog
