<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Soekarmini &#8211; Yayasan Soekarmini</title>
	<atom:link href="https://www.soekarmini.org/author/soekarmini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.soekarmini.org</link>
	<description>Ketulusan Empati</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2026 06:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/01/cropped-soekarmini-logo-favicon-202-1-32x32.png</url>
	<title>Soekarmini &#8211; Yayasan Soekarmini</title>
	<link>https://www.soekarmini.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Takut Berbuat Baik</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/takut-berbuat-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2026 06:10:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=403</guid>

					<description><![CDATA[Merdeka! Banyak orang di negeri ini yang senang berlomba. Orang berlomba-lomba korupsi, berlomba-lomba jadi penjilat, berlomba-lomba menipu, berlomba-lomba melanggar ajaran&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka!</p>
<p>Banyak orang di negeri ini yang senang berlomba. Orang berlomba-lomba korupsi, berlomba-lomba jadi penjilat, berlomba-lomba menipu, berlomba-lomba melanggar ajaran agama.</p>
<p>Sebaliknya jarang yang berlomba-lomba berbuat baik, berlomba-lomba menyatakan kebenaran. Pejabat atau mantan pejabat, jenderal atau mantan jenderal, penegak hukum atau mantan penegak hukum, pendidik atau mantan pendidik memilih diam seribu basa.</p>
<p>Ada ketakutan berjuang demi kebenaran dan keadilan, karena hampir pasti akan kalah atau tersingkir.</p>
<p><strong>Mengapa orang takut berbuat baik?</strong><br />
Orang sering kali takut melakukan perilaku &#8220;baik&#8221;, terutama di negara yang mengalami degradasi moral karena hal itu membuat mereka “terancam”, karena dianggap mengganggu norma sosial yang sudah berlaku dan mapan, atau mengundang perubahan yang tidak diinginkan.</p>
<p>Menjadi &#8220;pemberontak lingkungan&#8221; mengandung resiko yang cukup berat yaitu ejekan dan pengucilan.<br />
Reaksi “perlawanan dan permusuhan” dari orang lain yang gemar kondisi kemunduran ahlak, membuat tindakan untuk membuka kebenaran terasa berisiko.</p>
<p><strong>Mengapa orang gemar berperilaku buruk</strong><br />
Menurut penelitian, otak manusia memiliki struktur utama untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia.</p>
<p>Sebagai implementasi dari hal ini orang sering kali sangat fokus pada kebutuhan, keinginan, atau kelangsungan hidup mereka sendiri, bahkan dengan mengorbankan orang lain.</p>
<p>Teori psikoanalitik kepribadian Sigmund Freud berpendapat bahwa perilaku manusia adalah hasil dari konflik yang terus-menerus, seringkali tidak disadari, antara tiga komponen kepribadian, yaitu : id, ego, dan superego. Kepribadian sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanak dan dorongan bawah sadar.</p>
<p>Aspek Superego, berkembang sekitar usia 5 tahun, ini adalah hati nurani moral. Super ego menggabungkan nilai-nilai, moral, dan aturan masyarakat yang dipelajari dari orang tua dan budaya lingkungan. Super ego berupaya mencapai kesempurnaan dan sering mencoba menekan dorongan id yang selalu ingin dipuaskan (pleasure principle)</p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya, Individu dapat menggunakan trik kognitif, seperti membenarkan tindakan mereka dengan alasan “semua orang melakukannya&#8221; atau meremehkan korban, untuk memperoleh pembenaran dan rasa tidak bersalah.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Karena otak manusia dirancang utamanya untuk melindungi diri sendiri agar bisa hidup, maka tidak mengherankan kalau sifat egois lebih mudah berkembang dari pada sifat empati.<br />
Dalam fase perkembangan kepribadian, aspek super ego berfungsi sebagai penentu pilihan perilaku benar atau salah. Individu dengan super ego yang lemah, tidak mampu menerapkan nilai-nilai moral dengan benar.</p>
<p>Ketika lingkungan mengalami kemerosotan moral, mereka melakukan pelanggaran etika moral tanpa rasa bersalah.</p>
<p>Bagi individu dengan super ego kuat, menghadapi tekanan arus kemerosotan ahlak, terpaksa memilih respon &#8220;lawan atau lari&#8221; (fight or flight), yaitu mekanisme bertahan hidup otomatis dan alami dalam diri manusia. Respons ini mempersiapkan manusia untuk menghadapi ( fight) atau melarikan diri (flight) dari bahaya yang dirasakan atau situasi yang sangat menegangkan.</p>
<p>Pada kenyataannya di negeri tercinta, banyak individu yang memilih “lari” menghindari konflik terbuka dengan perusak moral bangsa untuk keselamatan hidupnya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya kesalahan (hanya) ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.&#8221;<br />
QS. Asy-Syura Ayat 42.</p></blockquote>
<p><strong>Retno Triani Soekonjono</strong><br />
<strong>Psikolog</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pidato Presiden</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/pidato-presiden/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 06:08:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=399</guid>

					<description><![CDATA[Merdeka! Rakyat di setiap negara selalu menunggu pidato dari pimpinannya, baik di tingkat organisasi lokal maupun tingkat pemerintahan kota sampai&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka!</p>
<p>Rakyat di setiap negara selalu menunggu pidato dari pimpinannya, baik di tingkat organisasi lokal maupun tingkat pemerintahan kota sampai pusat.</p>
<p>Beberapa tokoh panutan dan juga orator terkenal diantaranya Presiden Soekarno mampu berpidato untuk menyatukan emosi dan memotivasi semangat audiens melalui kata-kata yang diartikulasikan dengan baik dan dengan intonasi suara yang menggelora penuh semangat.</p>
<p>Berpidato bukan sekadar berbagi informasi melalui kata-kata, tetapi harus mampu menciptakan energi, menetapkan niat, dan memengaruhi lingkungan sekitar.</p>
<p><strong>Pidato seorang Presiden.</strong><br />
Menurut para ahli, Kekuatan pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk mengendalikan percakapan nasional, menetapkan agenda pemerintah, dan membentuk persepsi publik. Karena jabatan presiden Indonesia merupakan &#8220;mandat rakyat yang berpengaruh”, pidato presiden berfungsi sebagai alat utama untuk menggalang dukungan publik, memberikan semangat pada rakyat, memberikan tekanan pada para pembuat undang-undang dan penegak hukum, serta memproyeksikan kepemimpinan baik di dalam negeri maupun internasional.</p>
<p>Dalam situasi krisis, presiden dapat menggunakan bahasa, modalitas, dan pesan strategis untuk menegaskan otoritas mereka secara hukum dan sosial, menyatakan prioritas nasional, dan menggalang persatuan.</p>
<p>Selain kalimat-kalimat penting yang tersusun apik, penampilan visual, bahasa tubuh, dan latar belakang pidato presiden sangat memengaruhi bagaimana warga negara mempersepsi atau memandang kompetensi presidennya.</p>
<p>Pidato seorang presiden dapat menampilkan citra yang buruk melalui beberapa jenis ucapan yang tidak bijaksana, terutama berbicara bertele-tele tanpa poin yang jelas, menggunakan humor yang menyinggung atau tidak pantas, menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan atau arogan, dan meningkat menjadi permusuhan defensif ketika diktitik atau ditantang. Janji-janji muluk, kebohongan keberhasilan juga bisa mempengaruhi persepsi utuh tentang seorang presiden. </p>
<p><strong>Apakah “humor” boleh digunakan dalam sebuah pidato?</strong><br />
Lelucon atau humor boleh digunakan dalam pidato siapapun, tetapi harus hati-hati menggunakannya . Meskipun humor mampu membangun koneksi secara instan dan “mencairkan” suasana, penggunaan humor bisa berisiko jika gagal. Untuk memastikan keberhasilan, periksa relevansi, kesesuaian dengan audiens, dan sifat resmi atau tidaknya acara dimana pidato itu diucapkan.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Kekuatan sebuah pidato siapapun termasuk pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk memengaruhi keyakinan, mengubah pola pikir, dan menggerakkan tindakan.<br />
Pesan inti harus ringkas dan mudah dipahami oleh pendengar.</p>
<p>Keyakinan tulus dalam pesannya harus terpancar jelas, mampu “mengubah” ide-ide kompleks menjadi poin-poin penting yang mudah diingat dan dapat ditindaklanjuti.</p>
<p>Menyampaikan lelucon yang tidak teruji, tidak sensitif, atau kontroversial di luar naskah dapat langsung menghancur kesan dan reputasi profesional seorang pembicara. </p>
<p>“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! &#8230; Negara Republik Indonesia bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!&#8221;</p>
<p>“Jas Merah&#8221; amanat terakhir Bung Karno di HUT Proklamasi, 17 Agustus 1966<br />
<strong><br />
Retno Triani Soekonjono<br />
Psikolog</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Karakter Mengalahkan Kecerdasan</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/ketika-karakter-mengalahkan-kecerdasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 06:14:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=408</guid>

					<description><![CDATA[Pelajaran Besar dari How Children Succeed karya Paul Tough. Di ruang kelas modern, kecerdasan sering kali diukur dengan angka. Nilai&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pelajaran Besar dari How Children Succeed karya Paul Tough. Di ruang kelas modern, kecerdasan sering kali diukur dengan angka. </p>
<p>Nilai ujian, skor IQ, ranking sekolah, hingga sertifikat prestasi menjadi tolok ukur yang dianggap menentukan masa depan seorang anak. Namun sebuah pertanyaan sederhana terus mengusik para peneliti pendidikan: mengapa sebagian anak yang sangat pintar justru gagal menghadapi kehidupan, sementara anak-anak dengan kemampuan akademik biasa mampu bertahan, berkembang, dan mencapai kesuksesan?</p>
<p>Pertanyaan itulah yang mendorong jurnalis pendidikan Amerika, Paul Tough, melakukan perjalanan panjang menelusuri dunia pendidikan, psikologi, dan ilmu saraf. Hasil penelitiannya terangkum dalam buku How Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character, yang mengguncang banyak asumsi lama tentang kesuksesan. Menurut Tough, faktor paling menentukan masa depan anak bukanlah kecerdasan semata, melainkan karakter.</p>
<p><strong>Dua Anak, Dua Nasib</strong><br />
Di Chicago, Tough menemukan kisah yang menggambarkan paradoks tersebut. Seorang anak tumbuh di lingkungan miskin yang penuh kekerasan. Kehidupannya jauh dari ideal. Nilai sekolahnya buruk, sering bermasalah, dan banyak orang menganggap masa depannya suram. Namun ia memiliki satu hal yang tidak mudah diukur dalam rapor: kegigihan. Ia terus mencoba meskipun berulang kali gagal.</p>
<p>Di sisi lain, ada anak yang tumbuh dalam lingkungan nyaman, bersekolah di institusi terbaik, dan selalu memperoleh nilai sempurna. Semua indikator akademik menunjukkan bahwa masa depannya akan cemerlang. Namun ketika menghadapi kegagalan pertama yang serius dalam hidupnya, ia kesulitan bangkit.</p>
<p>Dari berbagai kisah seperti inilah Tough menyimpulkan bahwa keberhasilan hidup sering kali ditentukan oleh kemampuan seseorang menghadapi tantangan, bukan sekadar kemampuan menjawab soal ujian. </p>
<p><strong>Mitos Lama Tentang Anak Pintar</strong><br />
Selama beberapa dekade, sistem pendidikan di banyak negara dibangun di atas keyakinan bahwa anak yang memiliki nilai tinggi akan lebih sukses di masa depan. Karena itu, sekolah dan orang tua berlomba meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui kursus tambahan, latihan ujian, dan target akademik yang semakin tinggi.</p>
<p>Namun penelitian yang dikaji Tough menunjukkan bahwa kemampuan akademik hanya sebagian dari gambaran besar. Karakter seperti disiplin, rasa ingin tahu, optimisme, kemampuan mengendalikan diri, dan ketekunan ternyata memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kesuksesan jangka panjang. </p>
<p>Para peneliti bahkan menemukan bahwa banyak individu berprestasi bukanlah mereka yang paling berbakat, melainkan mereka yang mampu terus bergerak maju ketika menghadapi kesulitan.</p>
<p><strong>Luka yang Tidak Terlihat</strong><br />
Salah satu bagian paling penting dalam penelitian Tough adalah hubungan antara pengalaman masa kecil dan keberhasilan hidup.</p>
<p>Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan—baik karena kemiskinan, kekerasan, konflik keluarga, maupun penelantaran—mengalami tingkat stres yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak lain. Stres kronis ini tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga perkembangan otak, terutama bagian yang berperan dalam pengendalian diri, fokus, dan pengambilan keputusan. </p>
<p>Akibatnya, banyak anak yang tampak &#8220;nakal&#8221; atau &#8220;sulit diatur&#8221; sebenarnya sedang berjuang menghadapi dampak biologis dari tekanan hidup yang mereka alami.</p>
<p>Namun penelitian tersebut juga membawa kabar baik. Otak anak memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Kehadiran orang dewasa yang konsisten, hangat, dan peduli mampu membantu anak membangun kembali rasa aman serta meningkatkan kemampuan mengelola emosi dan tantangan hidup. </p>
<p><strong>Grit: Kekuatan yang Sering Diabaikan</strong><br />
Salah satu konsep yang paling menonjol dalam buku ini adalah grit, istilah yang dipopulerkan psikolog Angela Duckworth.</p>
<p>Grit dapat diartikan sebagai kombinasi antara ketekunan dan komitmen terhadap tujuan jangka panjang. Menurut penelitian Duckworth, kemampuan bertahan saat menghadapi hambatan sering kali menjadi prediktor yang lebih kuat dibandingkan kecerdasan atau bakat alami. </p>
<p>Dalam berbagai studi yang melibatkan atlet, siswa, hingga peserta pelatihan militer, mereka yang memiliki tingkat grit tinggi terbukti lebih mampu menyelesaikan tantangan berat dan mencapai target jangka panjang.</p>
<p>Temuan ini mengubah cara pandang banyak pendidik. Kesuksesan ternyata bukan hanya soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang tetap berjalan ketika jalan menjadi sulit.</p>
<p><strong>Pendidikan yang Lebih Manusiawi</strong><br />
Pesan utama dari How Children Succeed bukanlah bahwa akademik tidak penting. Sebaliknya, buku ini mengajak masyarakat melihat pendidikan secara lebih utuh.</p>
<p>Anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan berhitung, membaca, dan menghafal. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk belajar bangkit setelah gagal, mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan rasa ingin tahu terhadap dunia.</p>
<p>Karakter bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Ia tumbuh melalui pengalaman, hubungan yang sehat, dan lingkungan yang mendukung. Karena itulah peran orang tua, guru, dan komunitas menjadi sama pentingnya dengan kurikulum sekolah. ([SuperSummary][2])</p>
<p><strong>Lebih dari Sekadar Nilai Rapor</strong><br />
Di era ketika angka dan data menjadi ukuran utama keberhasilan, pesan Paul Tough terasa semakin relevan. Dunia kerja, kehidupan sosial, bahkan tantangan global yang terus berubah menuntut lebih dari sekadar kecerdasan akademik.</p>
<p>Kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, ketahanan menghadapi kegagalan, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal yang tidak kalah penting.</p>
<p>Pada akhirnya, pertanyaan tentang masa depan anak mungkin bukan lagi &#8220;seberapa pintar mereka?&#8221;, melainkan &#8220;seberapa kuat karakter mereka ketika menghadapi kehidupan?&#8221;</p>
<p>Dan mungkin di situlah letak perbedaan antara anak yang sekadar berprestasi di sekolah dengan anak yang benar-benar siap menghadapi dunia. (Firama Latuheru)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Cinta Seorang Wanita</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/kekuatan-cinta-seorang-wanita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 18:37:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=396</guid>

					<description><![CDATA[Merdeka ! Hari ini 125 (seratus dua puluh lima) tahun yang lalu, pada tanggal 6 Juni 1901 lahir “putra sang&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka !</p>
<p>Hari ini 125 (seratus dua puluh lima) tahun yang lalu, pada tanggal 6 Juni 1901 lahir “putra sang fajar” bayi laki-laki yang kelak menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Hampir selalu, disamping seorang laki-laki hebat ada wanita hebat yang mendampinginya.<br />
Salah satu wanita hebat yang sangat mencintai Soekarno adalah kakak kandung nya yang bernama Soekarmini.</p>
<p><strong>Cinta seorang wanita</strong><br />
Cinta seorang wanita seringkali didefinisikan berdasarkan keberanian dan pengorbanannya.<br />
Kekuatan cinta dari seorang wanita adalah kekuatan transformatif yang memadukan kelembutan dan ketangguhan yang terlihat dalam cara mereka menghadapi tantangan hidup.</p>
<p>Wanita dengan keteguhan hati melindungi dan mendukung orang yang mereka cintai tanpa ragu.</p>
<p>Cinta wanita menyembuhkan luka, memberikan perlindungan dan menjadi jangkar emosional yang menyejukkan.</p>
<p>Cinta seorang wanita seringkali menjadi sumber inspirasi dan motivasi terbesar terutama bagi orang yang ia cintai.</p>
<p>Cinta seorang wanita juga dikenal mampu mendorong seorang laki-laki untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.</p>
<p><strong>Cinta seorang kakak wanita.</strong><br />
Cinta Soekarmini sebagai kakak kandung memiliki kualitas menyembuh dan mengayomi. Melalui sifat alami yang penuh kasih, cinta Soekarmini menciptakan “ruang aman” bagi Soekarno saat menimba ilmu di SMA maupun di perguruan tinggi.</p>
<p>Soekarmini dan suaminya Poegoeh Reksoatmojomemberikan dukungan moril dan materiel ketika adiknya membutuhkan.</p>
<p>Cinta dan dukungan semangat dari Soekarmini menjadi sumber energi ketika Soekarno dalam penjara dan pengasingan di Sukamiskin Bandung (1929-1931), Ende Flores (1934-1938), Bengkulu (1938-1942),<br />
Soekarmini menjadi “jembatan kasih sayang” antara orang tua dan anak yang hidup dipisahkan oleh lautan.</p>
<p>Sebagai kakak kandung dari Soekarno, sekaligus sahabat, cinta Soekarmini menumbuhkan kehangatan, harmoni, dan dukungan pembelaan yang membuat ikatan kakak beradik ini menjadi lebih kuat dan bermakna.</p>
<p>Dukungan cinta dan kepercayaan yang diberikan dengan tulus oleh Soekarmini menjadi katalisator bagi kesuksesan dan pertumbuhan pribadi Soekarno.</p>
<p>Cinta ini menggabungkan kesetiaan yang kuat dari seorang kakak kandung pada adiknya yang merupakan sahabat seumur hidup dengan pemahaman mendalam dan tanpa syarat.</p>
<p>Ikatan unik ini membentuk makna hidup seseorang dan memberikan dukungan emosional yang tak tergoyahkan melalui setiap tahapan kehidupan dalam ikatan keluarga.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Kekuatan cinta Soekarmini sebagai wanita dan kakak kandung adalah kekuatan yang memadukan dengan indah kesetiaan yang teguh, empati yang mendalam, kasih yang menyejukkan dan semangat perjuangan yang tak pernah padam.</p>
<p>Cinta ini berfungsi sebagai sarana untuk penyembuhan, pertumbuhan dan sekaligus menginspirasi Soekarno untuk mencapai potensi tertinggi dalam dirinya yang diperlukan dalam perjuangannya untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Soekarmini adalah pejuang senyap, wanita sederhana dibelakang sosok hebat. Ia adalah salah seorang mutiara bangsa yang berjuang tanpa pamrih.</p>
<p><em>&#8220;Saat menempuh perjalanan hidup, alangkah baiknya jika ada tangan seorang wanita untuk dipegang erat.&#8221; Anonim</em></p>
<p><strong>Retno Triani Soekonjono<br />
Psikolog</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
