Melalui rekaman ingatan keluarga, jejak hidup Ibu Soekarmini kembali menemukan cahaya. Kisahnya adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia dibangun bukan hanya oleh para tokoh besar.

Tetapi juga oleh tangan-tangan sunyi yang bekerja di balik layar, termasuk seorang kakak yang setia menjaga adiknya, seorang perempuan yang teguh merawat nilai-nilai keluarga, dan seorang ibu yang turut menghidupkan semangat perjuangan melalui hal-hal sederhana.

Diskusi bersama Ibu DRA. PSI. Retno Triani, Master of Science yang juga Pembina Yayasan Soekarmini, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam perjuangan Indonesia.

Meskipun Soekarno berada di garis depan perjuangan kemerdekaan, para perempuan, termasuk Ibu Soekarmini, turut memikul beban sejarah. Mereka bekerja dalam diam, menjaga dapur, menjaga keluarga, menjaga keberlangsungan kehidupan. Semua itu adalah fondasi perjuangan yang sering kali tidak terlihat.

Pendidikan:

  1. Institut Tekonologi 10 November Surabaya (ITS)- tidak tamat
  2. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (S1)
  3. University of Wollongong Australia (S2)

Pekerjaan: 

  1. Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (1990-1999)
  2. Anggota MPR-RI (1999-2004)
  3. Dosen Unika Atma Jaya Jakarta (2001-2019)

Obrolan bisa langsung ditonton di YouTube dibawah ini: