<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Soekarmini</title>
	<atom:link href="https://www.soekarmini.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.soekarmini.org</link>
	<description>Ketulusan Empati</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Aug 2026 05:30:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/01/cropped-soekarmini-logo-favicon-202-1-32x32.png</url>
	<title>Yayasan Soekarmini</title>
	<link>https://www.soekarmini.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Medan Perang ke Medan Digital</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/dari-medan-perang-ke-medan-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 05:16:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=436</guid>

					<description><![CDATA[Mendefinisikan Ulang Nasionalisme untuk Generasi Z dan Alfa. Dulu, membela Indonesia identik dengan perjuangan di medan perang. Mengangkat senjata, mempertaruhkan&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mendefinisikan Ulang Nasionalisme untuk Generasi Z dan Alfa. Dulu, membela Indonesia identik dengan perjuangan di medan perang. Mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, dan melawan penjajahan menjadi gambaran utama tentang pengorbanan untuk bangsa.</p>
<p>Hari ini, medan perjuangan itu telah berubah.</p>
<p>Tidak selalu ada suara tembakan. Tidak selalu ada musuh yang datang dari luar negeri. </p>
<p>Bahkan, ancaman terbesar terhadap persatuan terkadang hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: sebuah unggahan media sosial, potongan video tanpa konteks, judul berita yang menyesatkan, komentar penuh kebencian, atau informasi palsu yang dibagikan tanpa pernah diperiksa kebenarannya.</p>
<p>Medan perang generasi muda hari ini bisa berada di dalam genggaman tangan.</p>
<p>Di situlah Generasi Z dan Generasi Alfa hidup, di antara layar ponsel, algoritma, kecerdasan buatan, budaya global, dan arus informasi yang bergerak nyaris tanpa batas.</p>
<p>Pertanyaannya kemudian: bagaimana generasi muda memaknai kembali nasionalisme di zaman digital?</p>
<h2><strong>Nasionalisme Tidak Boleh Berhenti di Masa Lalu</strong></h2>
<p>Zaman berubah. Manusia berubah. Cara berpikir berubah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.</p>
<p>Namun satu hal tidak harus berubah: nilai dasar untuk mencintai bangsa dan menjaga Indonesia.</p>
<p>Yang perlu berubah adalah cara menyampaikannya.</p>
<p>Bagi Generasi Z dan Alfa, nasionalisme tidak cukup disampaikan melalui hafalan sejarah, upacara, pengibaran Merah Putih, atau slogan tentang bela negara.</p>
<p>Semua itu tetap penting. Tetapi nasionalisme harus hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari.</p>
<ul>
<li>Di sekolah.</li>
<li>Di kampus.</li>
<li>Di tempat kerja.</li>
<li>Di lingkungan pertemanan.</li>
<li>Di komunitas.</li>
<li>Dan yang tidak kalah penting, di media sosial.</li>
</ul>
<p>Sebab bagi generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, ruang digital bukan sekadar tempat hiburan. Ruang digital telah menjadi tempat mereka belajar, berkomunikasi, membangun identitas, mencari informasi, berkarya, bahkan membentuk pandangan tentang dunia.</p>
<p>Maka, nasionalisme juga harus hadir di sana.</p>
<h2><strong>Dari Mengangkat Senjata Menjadi Mengangkat Kualitas Diri</strong></h2>
<p>Jika dulu perjuangan berarti mengangkat senjata, hari ini perjuangan dapat berarti mengangkat kualitas diri dan bangsa.</p>
<p>Seorang anak muda yang tekun belajar, menguasai teknologi, menciptakan karya, membangun usaha, membuat inovasi, atau menciptakan lapangan pekerjaan sesungguhnya sedang mengambil bagian dalam perjuangan Indonesia.</p>
<ul>
<li>Begitu pula seorang kreator yang memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.</li>
<li>Musisi yang membawa karya Indonesia ke panggung internasional.</li>
<li>Pengusaha muda yang membangun produk lokal.</li>
<li>Programmer yang menciptakan teknologi.</li>
<li>Guru yang mengabdikan diri untuk pendidikan.</li>
<li>Relawan yang membantu masyarakat.</li>
<li>Bahkan pengguna media sosial yang memilih untuk tidak menyebarkan hoaks.</li>
</ul>
<p>Semuanya adalah bentuk perjuangan. Nasionalisme tidak selalu harus terlihat heroik. Kadang ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari.</p>
<h2><strong>Musuh Baru Bernama Disinformasi</strong></h2>
<p>Generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Jika generasi sebelumnya menghadapi penjajahan fisik, generasi sekarang menghadapi perang informasi.</p>
<ul>
<li>Disinformasi dapat menyebar dalam hitungan detik.</li>
<li>Provokasi dapat menjangkau jutaan orang.</li>
<li>Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan.</li>
</ul>
<p>Algoritma bahkan dapat membuat seseorang terus-menerus melihat informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri tanpa pernah berjumpa dengan sudut pandang yang berbeda.</p>
<p><strong><em>Karena itu, salah satu bentuk bela negara yang paling sederhana hari ini adalah:</em></strong></p>
<ul>
<li>Berpikir sebelum membagikan.</li>
<li>Periksa sumber.</li>
<li>Baca isinya bukan baca judulnya.</li>
<li>Bandingkan informasi.</li>
<li>Jangan mudah percaya pada potongan video.</li>
<li>Jangan ikut menyebarkan fitnah.</li>
<li>Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci.</li>
</ul>
<blockquote><p>Sederhana, tetapi dampaknya besar. Saring sebelum sharing bisa menjadi salah satu bentuk nasionalisme digital.</p></blockquote>
<h2><strong>Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan</strong></h2>
<p>Indonesia dibangun dari keberagaman. Suku, agama, bahasa, budaya, tradisi, dan daerah yang berbeda hidup dalam satu rumah bernama Indonesia. Namun tantangan persatuan hari ini bukan hanya perbedaan itu sendiri.</p>
<p>Tantangannya adalah bagaimana perbedaan tersebut dimanfaatkan untuk memecah masyarakat. Media sosial dapat mempertemukan manusia. Tetapi media sosial juga dapat membuat manusia saling bermusuhan.</p>
<p>Karena itu, generasi muda perlu memiliki satu kemampuan penting: kemampuan untuk berbeda tanpa membenci.</p>
<ul>
<li>Kita boleh berbeda pilihan politik.</li>
<li>Boleh berbeda pendapat.</li>
<li>Boleh berbeda selera musik.</li>
<li>Boleh berbeda gaya hidup.</li>
<li>Boleh mengkritik pemerintah.</li>
<li>Boleh tidak setuju dengan kebijakan tertentu.</li>
<li>Namun perbedaan tidak harus berakhir dengan penghinaan.</li>
</ul>
<p>Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu berdiskusi tanpa kehilangan rasa hormat.</p>
<h2><strong>Nasionalisme Bukan Berarti Selalu Setuju</strong></h2>
<p>Ada anggapan bahwa mencintai Indonesia berarti harus selalu mendukung pemerintah. Mencintai Indonesia juga berarti berani mengatakan ketika ada sesuatu yang tidak benar.</p>
<p>Kritik yang disampaikan berdasarkan data dan kepedulian bukanlah bentuk kebencian kepada negara. Sebaliknya, kritik dapat menjadi bagian dari rasa memiliki.</p>
<p>Nasionalisme bukan tentang siapa yang paling keras meneriakkan kata “Indonesia”. Nasionalisme adalah tentang apa yang kita lakukan untuk Indonesia.</p>
<ul>
<li>Berkarya.</li>
<li>Belajar.</li>
<li>Berdikari.</li>
<li>Membayar kewajiban sebagai warga negara.</li>
<li>Menjaga lingkungan.</li>
<li>Menghargai perbedaan.</li>
<li>Menolak kebencian.</li>
<li>Melawan hoaks.</li>
<li>Membantu sesama.</li>
<li>Dan berani menjadi bagian dari perubahan.</li>
</ul>
<h2><strong>Menghapus Feodalisme dari Cara Berpikir</strong></h2>
<p>Ada satu perubahan lain yang tidak kalah penting: membangun generasi yang berani berpikir kritis. Menghormati orang tua, guru, senior, pemimpin, dan orang yang lebih berpengalaman tentu merupakan nilai yang baik.</p>
<p>Namun menghormati tidak berarti harus takut.</p>
<p>Generasi muda perlu belajar bahwa jabatan bukan alasan untuk selalu benar, dan usia bukan alasan untuk selalu paling tahu.</p>
<ul>
<li>Hormat kepada manusia.</li>
<li>Hormati pengalaman.</li>
<li>Hormati aturan yang baik.</li>
<li>Tetapi tetap berani bertanya.</li>
<li>Berani berdiskusi.</li>
<li>Berani memberikan gagasan.</li>
<li>Dan berani mengatakan bahwa sesuatu perlu diperbaiki ketika memang perlu diperbaiki.</li>
</ul>
<p>Hormat tanpa feodalisme. Kritik tanpa kebencian. Kebebasan tanpa kehilangan tanggung jawab. Inilah karakter yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.</p>
<h2><strong>Nasionalisme dalam Lima Aksi Sederhana</strong></h2>
<p>Nasionalisme modern sebenarnya tidak rumit. Generasi Z dan Alfa dapat memulainya dari lima hal sederhana.</p>
<ul>
<li><strong>Pertama, saring sebelum sharing.</strong><br />
Jangan menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi palsu dan kebencian.</li>
<li><strong>Kedua, berbeda tanpa bermusuhan.</strong><br />
Jadikan perbedaan sebagai ruang belajar, bukan alasan untuk saling menghancurkan.</li>
<li><strong>Ketiga, dukung karya Indonesia.</strong><br />
Gunakan, beli, tonton, dengarkan, dan promosikan karya anak bangsa.</li>
<li><strong>Keempat, terus meningkatkan kualitas diri.</strong><br />
Belajar adalah bentuk perjuangan. Menguasai ilmu dan teknologi adalah investasi untuk masa depan Indonesia.</li>
<li><strong>Kelima, berani bersuara secara bertanggung jawab.</strong><br />
Kritik pemerintah, kritik keadaan, kritik kebijakan—tetapi gunakan data dan argumen, bukan fitnah dan kebencian.</li>
</ul>
<p>Lima hal sederhana itu mungkin tidak terlihat seperti perjuangan. Tetapi jika dilakukan oleh jutaan anak muda Indonesia, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.</p>
<h2><strong>Indonesia Bukan Sekadar Warisan</strong></h2>
<p>Pada akhirnya, nasionalisme tidak seharusnya hanya berbicara tentang masa lalu. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi, bukan tempat kita berhenti. Generasi muda bukan hanya anak cucu para pejuang. Mereka juga calon pembentuk sejarah berikutnya.</p>
<p>Indonesia yang akan mereka warisi adalah Indonesia yang harus mereka rawat, kritik, perbaiki, dan kembangkan.</p>
<p>Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi: “Apa yang sudah diberikan Indonesia kepada kita?”</p>
<p>Tetapi: “Apa yang bisa kita berikan kepada Indonesia?”</p>
<p>Dari medan perang ke medan digital, bentuk perjuangan memang berubah. Teknologi berubah. Generasi berganti. Cara berkomunikasi berubah.</p>
<p>Namun nilai dasarnya tetap sama: menjaga persatuan, menghargai kemanusiaan, mencintai tanah air, dan membangun masa depan bersama. Maka nasionalisme generasi baru tidak perlu selalu berbentuk slogan.</p>
<ul>
<li>Ia bisa berupa sebuah karya.</li>
<li>Sebuah usaha.</li>
<li>Sebuah buku yang dibaca.</li>
<li>Sebuah hoaks yang tidak jadi dibagikan.</li>
<li>Sebuah perbedaan yang tidak berubah menjadi kebencian.</li>
<li>Sebuah kritik yang disampaikan dengan data.</li>
<li>Atau sebuah tindakan kecil untuk membantu orang lain.</li>
<li>Jangan hanya menjadi penonton Indonesia.</li>
<li>Jadilah bagian dari Indonesia yang ingin kamu lihat.</li>
</ul>
<p>Sebab zaman boleh berubah. Teknologi boleh berubah. Generasi boleh berganti. Tetapi satu hal tidak boleh berubah, yaitu: Indonesia adalah rumah kita bersama. (Firama Latuheru)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yayasan Soekarmini dan Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor Jalin Kerja Sama</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/yayasan-soekarmini-dan-ikatan-keluarga-besar-barisan-pelopor-jalin-kerja-sama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 21:30:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=419</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta. Sabtu, 22 Agustus 2026. Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo resmi menandatangani kerja sama dengan Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor sebagai&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta. Sabtu, 22 Agustus 2026. Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo resmi menandatangani kerja sama dengan Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor sebagai langkah memperkuat sinergi dalam bidang sejarah, kebangsaan, literasi, dan edukasi generasi muda.</p>
<p>Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen kedua lembaga untuk menjaga serta meneruskan nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa kepada generasi penerus. Melalui kerja sama tersebut, Yayasan Soekarmini dan IKBBP diharapkan dapat mengembangkan berbagai program bersama, antara lain edukasi sejarah, diskusi publik, kegiatan literasi, pengenalan tokoh-tokoh perjuangan bangsa, serta kegiatan kebangsaan yang melibatkan generasi muda.</p>
<p>Kolaborasi ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan semangat pelestarian sejarah dengan gerakan sosial dan literasi yang dikembangkan Yayasan Soekarmini. Dengan sinergi tersebut, sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun karakter, rasa kebangsaan, dan kepedulian sosial generasi masa kini, ujar Cakasana Wahyadyatmika.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut Yayasan Soekarmini memberikan cinderamata berupa lukisan sebagai wujud penghormatan kerjasama yang saling memberi arti di masa depan.</p>
<p>Yayasan Soekarmini dan Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor berkomitmen menjadikan kerja sama ini sebagai langkah nyata untuk merawat ingatan sejarah, menanamkan nilai kebangsaan, serta meneruskan semangat perjuangan para pendahulu kepada generasi Indonesia menuju 2045. (FL)</p>

<img fetchpriority="high" decoding="async" width="800" height="500" src="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-3.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" link="none" columns="1" size="full" ids="424,423,427,426,425" orderby="post__in" include="424,423,427,426,425" srcset="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-3.jpg 800w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-3-300x188.jpg 300w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-3-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />
<img decoding="async" width="800" height="500" src="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-4.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" link="none" columns="1" size="full" ids="424,423,427,426,425" orderby="post__in" include="424,423,427,426,425" srcset="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-4.jpg 800w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-4-300x188.jpg 300w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-4-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />
<img decoding="async" width="800" height="500" src="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-6.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" link="none" columns="1" size="full" ids="424,423,427,426,425" orderby="post__in" include="424,423,427,426,425" srcset="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-6.jpg 800w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-6-300x188.jpg 300w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-6-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />
<img decoding="async" width="800" height="500" src="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-7.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" link="none" columns="1" size="full" ids="424,423,427,426,425" orderby="post__in" include="424,423,427,426,425" srcset="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-7.jpg 800w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-7-300x188.jpg 300w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-7-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />
<img decoding="async" width="800" height="500" src="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-8.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" link="none" columns="1" size="full" ids="424,423,427,426,425" orderby="post__in" include="424,423,427,426,425" srcset="https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-8.jpg 800w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-8-300x188.jpg 300w, https://www.soekarmini.org/wp-content/uploads/2026/08/s-8-768x480.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />

]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Takut Berbuat Baik</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/takut-berbuat-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2026 06:10:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=403</guid>

					<description><![CDATA[Merdeka! Banyak orang di negeri ini yang senang berlomba. Orang berlomba-lomba korupsi, berlomba-lomba jadi penjilat, berlomba-lomba menipu, berlomba-lomba melanggar ajaran&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka!</p>
<p>Banyak orang di negeri ini yang senang berlomba. Orang berlomba-lomba korupsi, berlomba-lomba jadi penjilat, berlomba-lomba menipu, berlomba-lomba melanggar ajaran agama.</p>
<p>Sebaliknya jarang yang berlomba-lomba berbuat baik, berlomba-lomba menyatakan kebenaran. Pejabat atau mantan pejabat, jenderal atau mantan jenderal, penegak hukum atau mantan penegak hukum, pendidik atau mantan pendidik memilih diam seribu basa.</p>
<p>Ada ketakutan berjuang demi kebenaran dan keadilan, karena hampir pasti akan kalah atau tersingkir.</p>
<p><strong>Mengapa orang takut berbuat baik?</strong><br />
Orang sering kali takut melakukan perilaku &#8220;baik&#8221;, terutama di negara yang mengalami degradasi moral karena hal itu membuat mereka “terancam”, karena dianggap mengganggu norma sosial yang sudah berlaku dan mapan, atau mengundang perubahan yang tidak diinginkan.</p>
<p>Menjadi &#8220;pemberontak lingkungan&#8221; mengandung resiko yang cukup berat yaitu ejekan dan pengucilan.<br />
Reaksi “perlawanan dan permusuhan” dari orang lain yang gemar kondisi kemunduran ahlak, membuat tindakan untuk membuka kebenaran terasa berisiko.</p>
<p><strong>Mengapa orang gemar berperilaku buruk</strong><br />
Menurut penelitian, otak manusia memiliki struktur utama untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia.</p>
<p>Sebagai implementasi dari hal ini orang sering kali sangat fokus pada kebutuhan, keinginan, atau kelangsungan hidup mereka sendiri, bahkan dengan mengorbankan orang lain.</p>
<p>Teori psikoanalitik kepribadian Sigmund Freud berpendapat bahwa perilaku manusia adalah hasil dari konflik yang terus-menerus, seringkali tidak disadari, antara tiga komponen kepribadian, yaitu : id, ego, dan superego. Kepribadian sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanak dan dorongan bawah sadar.</p>
<p>Aspek Superego, berkembang sekitar usia 5 tahun, ini adalah hati nurani moral. Super ego menggabungkan nilai-nilai, moral, dan aturan masyarakat yang dipelajari dari orang tua dan budaya lingkungan. Super ego berupaya mencapai kesempurnaan dan sering mencoba menekan dorongan id yang selalu ingin dipuaskan (pleasure principle)</p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya, Individu dapat menggunakan trik kognitif, seperti membenarkan tindakan mereka dengan alasan “semua orang melakukannya&#8221; atau meremehkan korban, untuk memperoleh pembenaran dan rasa tidak bersalah.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Karena otak manusia dirancang utamanya untuk melindungi diri sendiri agar bisa hidup, maka tidak mengherankan kalau sifat egois lebih mudah berkembang dari pada sifat empati.<br />
Dalam fase perkembangan kepribadian, aspek super ego berfungsi sebagai penentu pilihan perilaku benar atau salah. Individu dengan super ego yang lemah, tidak mampu menerapkan nilai-nilai moral dengan benar.</p>
<p>Ketika lingkungan mengalami kemerosotan moral, mereka melakukan pelanggaran etika moral tanpa rasa bersalah.</p>
<p>Bagi individu dengan super ego kuat, menghadapi tekanan arus kemerosotan ahlak, terpaksa memilih respon &#8220;lawan atau lari&#8221; (fight or flight), yaitu mekanisme bertahan hidup otomatis dan alami dalam diri manusia. Respons ini mempersiapkan manusia untuk menghadapi ( fight) atau melarikan diri (flight) dari bahaya yang dirasakan atau situasi yang sangat menegangkan.</p>
<p>Pada kenyataannya di negeri tercinta, banyak individu yang memilih “lari” menghindari konflik terbuka dengan perusak moral bangsa untuk keselamatan hidupnya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya kesalahan (hanya) ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.&#8221;<br />
QS. Asy-Syura Ayat 42.</p></blockquote>
<p><strong>Retno Triani Soekonjono</strong><br />
<strong>Psikolog</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pidato Presiden</title>
		<link>https://www.soekarmini.org/pidato-presiden/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Soekarmini]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 06:08:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.soekarmini.org/?p=399</guid>

					<description><![CDATA[Merdeka! Rakyat di setiap negara selalu menunggu pidato dari pimpinannya, baik di tingkat organisasi lokal maupun tingkat pemerintahan kota sampai&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka!</p>
<p>Rakyat di setiap negara selalu menunggu pidato dari pimpinannya, baik di tingkat organisasi lokal maupun tingkat pemerintahan kota sampai pusat.</p>
<p>Beberapa tokoh panutan dan juga orator terkenal diantaranya Presiden Soekarno mampu berpidato untuk menyatukan emosi dan memotivasi semangat audiens melalui kata-kata yang diartikulasikan dengan baik dan dengan intonasi suara yang menggelora penuh semangat.</p>
<p>Berpidato bukan sekadar berbagi informasi melalui kata-kata, tetapi harus mampu menciptakan energi, menetapkan niat, dan memengaruhi lingkungan sekitar.</p>
<p><strong>Pidato seorang Presiden.</strong><br />
Menurut para ahli, Kekuatan pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk mengendalikan percakapan nasional, menetapkan agenda pemerintah, dan membentuk persepsi publik. Karena jabatan presiden Indonesia merupakan &#8220;mandat rakyat yang berpengaruh”, pidato presiden berfungsi sebagai alat utama untuk menggalang dukungan publik, memberikan semangat pada rakyat, memberikan tekanan pada para pembuat undang-undang dan penegak hukum, serta memproyeksikan kepemimpinan baik di dalam negeri maupun internasional.</p>
<p>Dalam situasi krisis, presiden dapat menggunakan bahasa, modalitas, dan pesan strategis untuk menegaskan otoritas mereka secara hukum dan sosial, menyatakan prioritas nasional, dan menggalang persatuan.</p>
<p>Selain kalimat-kalimat penting yang tersusun apik, penampilan visual, bahasa tubuh, dan latar belakang pidato presiden sangat memengaruhi bagaimana warga negara mempersepsi atau memandang kompetensi presidennya.</p>
<p>Pidato seorang presiden dapat menampilkan citra yang buruk melalui beberapa jenis ucapan yang tidak bijaksana, terutama berbicara bertele-tele tanpa poin yang jelas, menggunakan humor yang menyinggung atau tidak pantas, menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan atau arogan, dan meningkat menjadi permusuhan defensif ketika diktitik atau ditantang. Janji-janji muluk, kebohongan keberhasilan juga bisa mempengaruhi persepsi utuh tentang seorang presiden. </p>
<p><strong>Apakah “humor” boleh digunakan dalam sebuah pidato?</strong><br />
Lelucon atau humor boleh digunakan dalam pidato siapapun, tetapi harus hati-hati menggunakannya . Meskipun humor mampu membangun koneksi secara instan dan “mencairkan” suasana, penggunaan humor bisa berisiko jika gagal. Untuk memastikan keberhasilan, periksa relevansi, kesesuaian dengan audiens, dan sifat resmi atau tidaknya acara dimana pidato itu diucapkan.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Kekuatan sebuah pidato siapapun termasuk pidato presiden terletak pada kemampuannya untuk memengaruhi keyakinan, mengubah pola pikir, dan menggerakkan tindakan.<br />
Pesan inti harus ringkas dan mudah dipahami oleh pendengar.</p>
<p>Keyakinan tulus dalam pesannya harus terpancar jelas, mampu “mengubah” ide-ide kompleks menjadi poin-poin penting yang mudah diingat dan dapat ditindaklanjuti.</p>
<p>Menyampaikan lelucon yang tidak teruji, tidak sensitif, atau kontroversial di luar naskah dapat langsung menghancur kesan dan reputasi profesional seorang pembicara. </p>
<p>“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! &#8230; Negara Republik Indonesia bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!&#8221;</p>
<p>“Jas Merah&#8221; amanat terakhir Bung Karno di HUT Proklamasi, 17 Agustus 1966<br />
<strong><br />
Retno Triani Soekonjono<br />
Psikolog</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
