Mendefinisikan Ulang Nasionalisme untuk Generasi Z dan Alfa. Dulu, membela Indonesia identik dengan perjuangan di medan perang. Mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, dan melawan penjajahan menjadi gambaran utama tentang pengorbanan untuk bangsa.

Hari ini, medan perjuangan itu telah berubah.

Tidak selalu ada suara tembakan. Tidak selalu ada musuh yang datang dari luar negeri.

Bahkan, ancaman terbesar terhadap persatuan terkadang hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: sebuah unggahan media sosial, potongan video tanpa konteks, judul berita yang menyesatkan, komentar penuh kebencian, atau informasi palsu yang dibagikan tanpa pernah diperiksa kebenarannya.

Medan perang generasi muda hari ini bisa berada di dalam genggaman tangan.

Di situlah Generasi Z dan Generasi Alfa hidup, di antara layar ponsel, algoritma, kecerdasan buatan, budaya global, dan arus informasi yang bergerak nyaris tanpa batas.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana generasi muda memaknai kembali nasionalisme di zaman digital?

Nasionalisme Tidak Boleh Berhenti di Masa Lalu

Zaman berubah. Manusia berubah. Cara berpikir berubah. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun satu hal tidak harus berubah: nilai dasar untuk mencintai bangsa dan menjaga Indonesia.

Yang perlu berubah adalah cara menyampaikannya.

Bagi Generasi Z dan Alfa, nasionalisme tidak cukup disampaikan melalui hafalan sejarah, upacara, pengibaran Merah Putih, atau slogan tentang bela negara.

Semua itu tetap penting. Tetapi nasionalisme harus hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari.

  • Di sekolah.
  • Di kampus.
  • Di tempat kerja.
  • Di lingkungan pertemanan.
  • Di komunitas.
  • Dan yang tidak kalah penting, di media sosial.

Sebab bagi generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, ruang digital bukan sekadar tempat hiburan. Ruang digital telah menjadi tempat mereka belajar, berkomunikasi, membangun identitas, mencari informasi, berkarya, bahkan membentuk pandangan tentang dunia.

Maka, nasionalisme juga harus hadir di sana.

Dari Mengangkat Senjata Menjadi Mengangkat Kualitas Diri

Jika dulu perjuangan berarti mengangkat senjata, hari ini perjuangan dapat berarti mengangkat kualitas diri dan bangsa.

Seorang anak muda yang tekun belajar, menguasai teknologi, menciptakan karya, membangun usaha, membuat inovasi, atau menciptakan lapangan pekerjaan sesungguhnya sedang mengambil bagian dalam perjuangan Indonesia.

  • Begitu pula seorang kreator yang memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
  • Musisi yang membawa karya Indonesia ke panggung internasional.
  • Pengusaha muda yang membangun produk lokal.
  • Programmer yang menciptakan teknologi.
  • Guru yang mengabdikan diri untuk pendidikan.
  • Relawan yang membantu masyarakat.
  • Bahkan pengguna media sosial yang memilih untuk tidak menyebarkan hoaks.

Semuanya adalah bentuk perjuangan. Nasionalisme tidak selalu harus terlihat heroik. Kadang ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari.

Musuh Baru Bernama Disinformasi

Generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Jika generasi sebelumnya menghadapi penjajahan fisik, generasi sekarang menghadapi perang informasi.

  • Disinformasi dapat menyebar dalam hitungan detik.
  • Provokasi dapat menjangkau jutaan orang.
  • Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan.

Algoritma bahkan dapat membuat seseorang terus-menerus melihat informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri tanpa pernah berjumpa dengan sudut pandang yang berbeda.

Karena itu, salah satu bentuk bela negara yang paling sederhana hari ini adalah:

  • Berpikir sebelum membagikan.
  • Periksa sumber.
  • Baca isinya bukan baca judulnya.
  • Bandingkan informasi.
  • Jangan mudah percaya pada potongan video.
  • Jangan ikut menyebarkan fitnah.
  • Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci.

Sederhana, tetapi dampaknya besar. Saring sebelum sharing bisa menjadi salah satu bentuk nasionalisme digital.

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan

Indonesia dibangun dari keberagaman. Suku, agama, bahasa, budaya, tradisi, dan daerah yang berbeda hidup dalam satu rumah bernama Indonesia. Namun tantangan persatuan hari ini bukan hanya perbedaan itu sendiri.

Tantangannya adalah bagaimana perbedaan tersebut dimanfaatkan untuk memecah masyarakat. Media sosial dapat mempertemukan manusia. Tetapi media sosial juga dapat membuat manusia saling bermusuhan.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki satu kemampuan penting: kemampuan untuk berbeda tanpa membenci.

  • Kita boleh berbeda pilihan politik.
  • Boleh berbeda pendapat.
  • Boleh berbeda selera musik.
  • Boleh berbeda gaya hidup.
  • Boleh mengkritik pemerintah.
  • Boleh tidak setuju dengan kebijakan tertentu.
  • Namun perbedaan tidak harus berakhir dengan penghinaan.

Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu berdiskusi tanpa kehilangan rasa hormat.

Nasionalisme Bukan Berarti Selalu Setuju

Ada anggapan bahwa mencintai Indonesia berarti harus selalu mendukung pemerintah. Mencintai Indonesia juga berarti berani mengatakan ketika ada sesuatu yang tidak benar.

Kritik yang disampaikan berdasarkan data dan kepedulian bukanlah bentuk kebencian kepada negara. Sebaliknya, kritik dapat menjadi bagian dari rasa memiliki.

Nasionalisme bukan tentang siapa yang paling keras meneriakkan kata “Indonesia”. Nasionalisme adalah tentang apa yang kita lakukan untuk Indonesia.

  • Berkarya.
  • Belajar.
  • Berdikari.
  • Membayar kewajiban sebagai warga negara.
  • Menjaga lingkungan.
  • Menghargai perbedaan.
  • Menolak kebencian.
  • Melawan hoaks.
  • Membantu sesama.
  • Dan berani menjadi bagian dari perubahan.

Menghapus Feodalisme dari Cara Berpikir

Ada satu perubahan lain yang tidak kalah penting: membangun generasi yang berani berpikir kritis. Menghormati orang tua, guru, senior, pemimpin, dan orang yang lebih berpengalaman tentu merupakan nilai yang baik.

Namun menghormati tidak berarti harus takut.

Generasi muda perlu belajar bahwa jabatan bukan alasan untuk selalu benar, dan usia bukan alasan untuk selalu paling tahu.

  • Hormat kepada manusia.
  • Hormati pengalaman.
  • Hormati aturan yang baik.
  • Tetapi tetap berani bertanya.
  • Berani berdiskusi.
  • Berani memberikan gagasan.
  • Dan berani mengatakan bahwa sesuatu perlu diperbaiki ketika memang perlu diperbaiki.

Hormat tanpa feodalisme. Kritik tanpa kebencian. Kebebasan tanpa kehilangan tanggung jawab. Inilah karakter yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.

Nasionalisme dalam Lima Aksi Sederhana

Nasionalisme modern sebenarnya tidak rumit. Generasi Z dan Alfa dapat memulainya dari lima hal sederhana.

  • Pertama, saring sebelum sharing.
    Jangan menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi palsu dan kebencian.
  • Kedua, berbeda tanpa bermusuhan.
    Jadikan perbedaan sebagai ruang belajar, bukan alasan untuk saling menghancurkan.
  • Ketiga, dukung karya Indonesia.
    Gunakan, beli, tonton, dengarkan, dan promosikan karya anak bangsa.
  • Keempat, terus meningkatkan kualitas diri.
    Belajar adalah bentuk perjuangan. Menguasai ilmu dan teknologi adalah investasi untuk masa depan Indonesia.
  • Kelima, berani bersuara secara bertanggung jawab.
    Kritik pemerintah, kritik keadaan, kritik kebijakan—tetapi gunakan data dan argumen, bukan fitnah dan kebencian.

Lima hal sederhana itu mungkin tidak terlihat seperti perjuangan. Tetapi jika dilakukan oleh jutaan anak muda Indonesia, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Indonesia Bukan Sekadar Warisan

Pada akhirnya, nasionalisme tidak seharusnya hanya berbicara tentang masa lalu. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi, bukan tempat kita berhenti. Generasi muda bukan hanya anak cucu para pejuang. Mereka juga calon pembentuk sejarah berikutnya.

Indonesia yang akan mereka warisi adalah Indonesia yang harus mereka rawat, kritik, perbaiki, dan kembangkan.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi: “Apa yang sudah diberikan Indonesia kepada kita?”

Tetapi: “Apa yang bisa kita berikan kepada Indonesia?”

Dari medan perang ke medan digital, bentuk perjuangan memang berubah. Teknologi berubah. Generasi berganti. Cara berkomunikasi berubah.

Namun nilai dasarnya tetap sama: menjaga persatuan, menghargai kemanusiaan, mencintai tanah air, dan membangun masa depan bersama. Maka nasionalisme generasi baru tidak perlu selalu berbentuk slogan.

  • Ia bisa berupa sebuah karya.
  • Sebuah usaha.
  • Sebuah buku yang dibaca.
  • Sebuah hoaks yang tidak jadi dibagikan.
  • Sebuah perbedaan yang tidak berubah menjadi kebencian.
  • Sebuah kritik yang disampaikan dengan data.
  • Atau sebuah tindakan kecil untuk membantu orang lain.
  • Jangan hanya menjadi penonton Indonesia.
  • Jadilah bagian dari Indonesia yang ingin kamu lihat.

Sebab zaman boleh berubah. Teknologi boleh berubah. Generasi boleh berganti. Tetapi satu hal tidak boleh berubah, yaitu: Indonesia adalah rumah kita bersama. (Firama Latuheru)